Taukah kamu? 50% IQ anak diwarisi Ibu dan EQ anak diwarisi Ayah

Saya beri hormat buat sekolah zara sekali lagi. Setelah kemarin ada penyuluhan tentang Kanker, hari ini sekolah kedatangan psikolog dari Primacita Indonesia. Meski sekolah rakyat, murah meriah tapi selalu ada hal menarik yang sangat bermanfaat untuk Ibunya juga. Kali ini sang Pembicara tidak membahas secara tuntas tiap permasalahan, tapi dia janji tanggal 14 oktober 2016 akan melakukan Tes Psikolog secara face to face kepada semua murid dan akan memberikan hasilnya lengkap kepada orang tua tentang IQ, EQ, Tipe Belajar dan beberapa tes lainnya plus boleh berkunsultasi. So hari ini adalah pengenalan, tapi isinya sangat bermanfaat. Makanya jadi pengen share.

Saya datang terlambat, sehingga tak tahu awal pembicaraan pembukanya. “Kita tidak mau kan anak kita menjadi generasi yang demikian?”, kata Bu Hayati Nufus sang pembicara saat saya ikutan nimbrung. Tapi ya sudahlah meski telat 30 menit saya tetap dapat banyak info penting. Salah satunya adalah judul diatas.

Intelligence Quotient

Ternyata sesuai penelitian, Tingkat Kecerdasan Otak Anak atau biasa kita kenal dengan bahasa gaulnya IQ, sangat dipengaruhi oleh tingkat intelektual Ibu. Besar pengaruhnya adalah sebesar 50% sementara sisanya adalah akibat lingkungan dan pola didik. Ibu yang tidak pintar bisa saja menghasilkan anak yang pandai. Demikian pula sebaliknya, ibu yang pintar bisa saja memiliki anak yang disekolah disebut kurang pandai.

Mengapa demikian??? Karena 50% tersebut hanyalah dasar. Dasar yang ketika dipicu dengan benar maka akan menghasilkan anak yang cerdas gemilang meski Ibu nya ‘kurang pandai’. Tapi anak yang dasarnya pandai namun mendapatkan pola pendidikan yang salah (tidak sesuai dengan karakter belajar anak) maka kepandaiannya jadi kurang berkembang.

Bagaimana cara kita mengetahui karakter belajar anak supaya cara mendidiknya tidak salah???  Menurut Bu Hayati salah satu cara mengetahui adalah dengan memperhatikan perilaku sehari hari anak.

Misal anaknya selalu bertanyaaaa. Apapun ditanyakan. Pertanyaannya pun aneh aneh (zara anakku banget nih). Ini tandanya dia adalah anak audio alias cepat belajar hanya dengan cara mendengar. So, hati hati ya dengan anak anak ini karena kita salah bicara dia akan cepat menyerap. Dan memang bener, zara ini kemampuan intelektualnya bisa saya sebut KEREN. Ia cepat sekali menangkap apa yang saya katakan. Seperti orang dewasa saya menyebutnya. Karena kepandaiannya kadang saya suka lupa kalau dia masih anak kecil.

parenting-iq parenting-zara

Setelah saya ingat ingat mungkin ternyata pola didik otodidak yang selama ini saya terapkan benar. Saya selalu meladeni setiap pertanyaan zara sejak ia pertama kali bisa bicara. Bahkan saya tak segan memarahi papanya ketika diajak obrol dan papanya ngga menjawab. Meski cape karena zara ini batrenya alkaline alias diem ngomong cuma kalau tidur hehehee tapi setelah tau hasilnya gini, jadi seneng juga. Ups kenapa saya pede banget ya. Padahal kan belum tes IQ hihihi. Jadi penasaran bagaimana hasil Tes IQ zara dan apakah betul sesuai prediksi saya bahwa zara ini masuk kategori audio atau bukan. Dan nanti setelah tes pun akan ada solusi cara belajar yang paling tepat untuk anak anak.

Lalu anak yang visual. Ia anak yang tenang. Jarang ada pertanyaan (kayaknya ini saya banget hahahaa – saya orangnya jarang penasaran sehingga jarang ada pertanyaan). Ia adalah tipe anak yang belajar harus dengan visual. Semasa kecil sampai SMA saya tak pernah punya nilai akademi yang mengagumkan. Bahkan saat SMP kelas 1 saya nyaris ngga naik kelas oh noooo. Beruntunglah kelas 2 smp saya dipindahkan orang tua saya ke sekolah badminton. Sehingga sekolah bukan prioritas.

“Kenapa saya bodoh”, itu yang selalu saya katakan. Padahal kakak saya nomor 1-3 semua pandai pandai. Bahkan kakak ketiga dari SMP – SMA selalu masuk 10 besar di sekolah terbaik di surabaya. Apalagi saat SD, gelar juara 1 hampir selalu disandangnya.

Kok bisa orang tua dan kakak kakak yang pandai punya adik yang tulalit. Saya sampai tidak punya impian untuk kuliah saking saya takut. Namun orang tua memaksa kuliah. Dan tak disangkaaaa, saya pernah mendapat IP  3,8 loh hahhaaa jadi seneng nulisnya, lalu IPK saya kalau ga salah 3,6 (kalau ga salah??? hiks yes, saya lupa IPK saya. Bahkan saya lupa meletakkan dimana ijazah saya. Maklum sejak menikah pindah rumah 9 kali, dokumen tidak rapi. Parah dah ah). Kok bisaaa? Anak yang smp kelas 1 aja hampir ga naik, kuliah bisa dapat nilai bagus??? Setelah saya pikir pikir mungkin ini dia penyebabnya:

Universitas Kristen Petra Jurusan Ilmu Komunikasi memiliki kebijakan, sebelum masuk dalam penjurusan (milih masuk broadcast tv / public relations / media cetak dan online) kita diwajibkan melakukan Magang Pertama. Tujuannya supaya kita tidak salah memilih jurusan.

Beruntungnya saya diterima magang di RCTI dan berjumpa dengan Pak Bambang Purwadi (saat itu kepala biro RCTI). Magang yang hanya 21 hari tapi efeknya saya tak perlu belajar sampai akhirnya lulus kuliah. Kenapa? Karena selama 21 hari tersebut Pak Bambang mengajari saya langsung praktek dilapangan, disuruh wawancara, membuat naskah dan belajar dubbing. Padahaaal??? Saat masuk magang itu saya masih butaaaaa tentang semua itu karena memang belum dapat pelajarannya.

Dan hebatnya dengan pengalaman praktek langsung dilapangan dan dibimbing Pak Bambang. Usai magang saya serasa menguasai semua mata pelajaran tentang TV. Tanpa berpikir lama saya langsung piawai membuat naskah, menyusun materi wawancara dst. Sampai sampai dosen yang mengajar tentang TV, kaget karena saya sudah menguasai.

Yup, tipe visual seperti saya tampaknya harus praktek baru bisa. Karena sungguh, sampi hari ini saya adalah orang yang sangat bodoh membaca manual book atau membaca peraturan pun saya suka kesusahan. Bahkan saya lebih mudah menterjemahkan puisi khalil gibran daripada manual book cara memasang dan mengoperasikan DVD hahaha. Suweeer.

Nah dari dua tipe belajar ini jangan paksa anak visual belajar hanya dengan mendengar atau sebaliknya. Nah beruntungnya Zara karena sekolahnya akan menyelenggarakan tes tersebut pada 14 oktober mendatang sehingga saya kelak bisa lebih memaksimalkan IQ zara. Semoga.

Hmmm apa kabar anak yang Aktif banget??? Yang kalau dirumah dikelas ga bisa diem. Lari sana sini ga karuan??? Tet tot, si Ibu ngga menjelaskan dia masuk kategori apa (kita ibu ibu yang hadir kok juga ga nanya hehehe). Tapi Bu Hayati menjelaskan anak yang demikian adalah akibat dari pengaruh susu sapi !!! Yes susu sapi.

“Anak ASI akan tumbuh lebih pintar daripada anak susu sapi. Selain kecerdasan, anak susu sapi memiliki ciri tidak bisa diam. Lariii terus kesana kemari. Solusi buat ibu ibu yang ASI tidak keluar, ganti susu dengan susu kambing atau soya. Ini lebih baik dari susu sapi. Semahal apapun susunya kalau dia masih susu sapi, hasilnya akan sama.” kata Bu Hayati. Hal ini berlaku untuk anak perempuan maupun laki laki.

Emotional Quotient

Sementara segala hal yang berhubungan dengan perilaku, mental, temperamen, atau biasa kita sebut EQ, 50% dasar awalnya adalah dari ayah. Jadi beruntunglah kita kita yang punya suami bijaksana, jujur, perhatian dan bla bla bla yang baik baik, karena inilah yang akan jadi karakter dasar anak yang kita miliki. Jadi bersyukurlah saya karena artinya anak anakku Zara dan Kenzo memiliki bakat mental yang baik seperti papanya, ngga seperti saya yang penakut hehehee. #bahagiatralalalala

Tapi buat yang bersuami suka bohong, kekerasan dalam rumah tangga dan lain lain alias terlanjur salah pilih kucing dalam karung, gimana??? Jangan kuatir. Penanganan yang tepat dapat membuat karakter anak menjadi baik. Tapi tentunya dengan perjuangan yang lebih ekstra daripada yang bersuami baik baik. Caranya??? Beri sentuhan sentuhan positif dalam kehidupan masa kecil anak.

Misal : usapan tangan ke kepala tanda sayang, pelukan, dongeng sebelum tidur (baca artikel saya tentang dahsyatnya pelukan dan dongeng sebelum tidur), meminta maaf jika kita salah dan perbuatan perbuatan penuh kasih lainnya.

parenting-zara-cute

Dan dewasa ini EQ menjadi perhatian tajam untuk generasi bangsa. Kenapa? Karena begitu banyak remaja dengan perilaku mengkhawatirkan. Wooowww, apakah karena semua pria dewasa ini ga yahud sehingga keturunannya seperti itu? Ups jangan judge papanya juga donk. Kesian. Karena seperti IQ yang perkembangannya tergantung pola didik, demikian juga dengan EQ sangat dipengaruhi oleh lingkungan.

Bisa saja orang tuanya sangat luar biasa baik. Anaknya pun saat kecil sangat santun dan baik. Tapi begitu remaja, mulai gaul dengan teman teman dan orang tua lengah. Inilah puncak krisis mental terjadi. Rokok, narkoba, seks, judi dan perbuatan seram lainnya bahkan pembunuhan kini sudah banyak dilakukan REMAJA. Orang tua hanya bisa menyesal. Seperti halnya IQ, pertumbuhan EQ ini juga berlaku untuk anak laki dan perempuan.

Wooowwwww sebuah pembuka yang mencerahkan bukan??? Mariii dari sini kita Ibu atau Bapak, mulai mengkoreksi diri masing masing dan akui kelemahan kita kemudian mari berjuang untuk mencetak anak yang lebih baik dari kita orang tuanya. Syukur syukur orang tuanya juga berubah menjadi lebih baik demi memberi contoh kepada anak untuk masa depan yang lebih baik.

Hmmm pertemuan saya dengan Bu Hayati dalam penyuluhan di sekolah zara ini hanya 30 menit. Tapi manfaatnya mengubah pemikiran saya. Terima Kasih Pak Joko, kepala sekolah Zara yang selalu mendatangkan narasumber keren untuk Ibu Ibu pengangguran seperti saya. Yang selalu punya waktu jika sekolah ada hal hal yang menarik. Sungguh saya tidak sabar segera tanggal 14 oktober. Setelah tes, hasil tes akan keluar pada tanggal 21 oktober. Hmmm dag dig dug. Hasil tes psikologi zara akan seperti apa ya???

Oya, untuk tahu keseharian Zara, bisa lihat di Youtube Zara, Klik disini untuk lihat video video zara. Semoga artikel ini bermanfaat ya. Dan jika pembaca suka dengan artikelnya monggo dikomen ya supaya saya semangat bikin artikel tentang parenting hehehee.

    1. Kel September 29, 2016
      • Catur Guna September 29, 2016
    2. Oline September 30, 2016
      • Catur Guna October 1, 2016
    3. retno September 30, 2016
      • Catur Guna October 1, 2016
    4. nova September 30, 2016
      • Catur Guna October 1, 2016
    5. Sophia September 30, 2016
      • Catur Guna October 1, 2016
    6. Hayati nuvus October 7, 2016
      • Catur Guna October 8, 2016

    Add Your Comment