Pengalaman Seru Periksa Kehamilan pakai ‘BPJS’ di Jepang dan Puskesmas

Hoho judul ini hanya mengikuti trend BPJS di Indonesia sebetulnya. Karena saya sendiri tak tahu nama asuransi yang saya gunakan saat tinggal di Jepang dulu, namun sepertinya memiliki metode yang kurang lebih sama dengan BPJS. Tentang BPJS di Indonesia pun jujur saya tak seberapa tahu karena saya sendiri tak punya kartu BPJS (Jadi jangan tanya cara membuatnya ya). Saya hanya tau apa itu BPJS dari teman teman saja. Tapi, hmmm saya ingin berbagi pengalaman saat memakai kartu sakti semacam BPJS di Jepang dan juga saat saya periksa di puskesmas di Indonesia. Dan yuhuuuu, puskesmas di Indonesia itu ternyata keren!!! Ngga percaya??? Ini kisah saya.

Sejujurnya saya tak tahu apa apa tentang cara mengurus asuransi ini di Jepang (jadi jangan tanya), karena ketika saya dinyatakan hamil oleh dokter swasta yang pertama kali saya datangi, keesokannya bos suami langsung mengutus orang datang ke apartemen dan mengajak saya ke sebuah kantor dan saya hanya duduk manis, tau tau kartu tersebut sudah jadi.

jepang-hamil-dotest

Kata beberapa teman, itu adalah fasilitas bagi ibu Hamil di Jepang. Karena Jepang adalah salah satu negara yang sangat mengharapkan pembangunan negara dari generasi berikut. Sehingga mereka tak ingin kecolongan dengan lahirnya bayi tidak sehat atau cacat. Maka, perhatian untuk ibu hamil sangatlah luar biasa. Dan karena sebelumnya saya telah dibuatkan asuransi oleh bos suami, maka saya pun berhak mendapatkan fasilitas ibu Hamil ini meski saya bukan orang Jepang.

Usai pulang dari kantor tersebut saya diberi aneka buku panduan hamil dan banyak kartu berwarna kuning. Kata sang utusan bos, Hinata San, kira kira begini “Setiap kerumah sakit bawa kartu ini dan berikan pada bagian resepsionis. Nanti biar mereka yang pilih dan setelah itu kamu tidak usah bayar apa apa. Kartu ini semacam uang. Lihat, ada nominal angka disini, jadi ini adalah biaya yang di cover dan itu sudah mencakup semua, kecuali jika kamu beli obat, nanti dikasih resep dan beli sendiri di apotik”.

hamil-jepang-buku2 jepang-hamil-1

Periksa dengan kartu sakti ini, saya pun otomatis harus pindah rumah sakit. Tidak bisa ke dokter yang semula memeriksa saya. Karena semacam ada kriteria rumah sakit tertentu saja yang menerima pasien dengan kartu tersebut. Cara bayar asuransi ini pun ‘katanya’ murah dan uang yang sudah kita tabung, sakit atau tidak sakit, dipakai atau tidak dipakai, ngga akan dikembalikan. (Mirip BPJS kan ya – maka saya sebut BPJS aja ya hihi).

Pelayanan dengan BPJS di Jepang dan di Puskesmas Indonesia

Sebetulnya soal pelayanan, Puskesmas Indonesia ngga kalah menyenangkan dengan di Jepang. Saya pernah ke Puskesmas di Banyumas dan juga di Jakarta. Sama sama ramah dan cepat plus murah meriah. Percaya ngga percaya, saya periksa kehamilan di puskesmas sudah lengkap diberi obat dan vitamin (saat hamil saya sedang sakit) hanya total 2.000 rupiah!!! Jika memakai BPJS kata orang disebelah saya saat antri (gratissss). Dan percaya ngga sih? Obatnya manjur sekali. 2x minum obat saya langsung sembuh. Padahal sebelumnya saya ke dokter swasta (tentu jauh lebih mahal dari angka 2.000 rupiah, sakit saya belum sembuh sembuh).

Nah, yang beda mungkin hanya soal menunggu dan penyuluhan tentang penting tidak pentingnya obat dan vitamin. Yup, jika di Indonesia (tak hanya puskesmas, tapi bahkan rumah sakit internasonal dan klinik yang pernah saya datangi), kita antri tanpa tahu jam berapa kita akan dipanggil. Karena kita antri berdasarkan nomor. Di Jepang ini tak akan terjadi. Semua serba ontime, bahkan jika kita terlambat semenit saja dari jadwal yang diberikan dokter, kita bisa kena sanksi yaitu dokter tersebut tak akan mau memeriksa kita lagi, alias kita harus mencari dokter lain. Yup, jadwal antri dokter di Jepang tak hanya diberi tanggal, tapi juga diberi jam dan menit. Jadi, kita tinggal datang di Jam yang telah ditentukan dan langsung bertemu dokter, pulang deh. Sehingga tak ada penumpukkan pasien.

Inilah mungkin yang menyebabkan, meski ruang tunggu di RS yang saya datangi di Jepang tak besar, tapi semua pasien dapat tempat duduk. Beda dengan di Indonesia yang pasien bisa menumpuk heboh dan mengenaskan lagi jika itu terjadi di puskesmas yang tiada mesin pendingin dan tiada kantin tempat nongkrong cantik. Hiks, jujur saya hanya sekali periksa kehamilan di Puskesmas, bukan karena tidak puas. Tapi kasihan Zara yang ikutan menemani antri. Selain susah dapat tempat duduk, juga tak ada kantin tempat untuk nongkrong. Panas bejubel dan tentunya antriannya panjang sekali.

jepang-hamil-rs

Padahal, I Love Puskesmas. Beberapa kali ke Puskesmas saat masih bujang, saya selalu sembuh sentausa. Cocok dengan obat dan harganya hihihi. Antri di dokter swasta sebetulnya ngga kalah mengenaskan. Saya pernah menunggu 3 jam dan dokter belum balik dari membantu orang melahirkan, “Ada 2 yang melahirkan, jadi agak lama. Ngga tahu juga selesainya jam berapa”, kata resepsionisnya. Kebayang ngga sih, nunggu 3 jam itu belum termasuk nanti harus antri lagi karena masuk berdasar nomor antrian. Dimana hal ini ngga mungkin terjadi di puskesmas, apalagi di Jepang. Ngga ada istilah nunggu dokternya lagi mbantuin lahiran.

Detailnya pemeriksaan di Jepang

Sementara soal detail, di Jepang memang lebih detail. Hamil dibawah 3 bulan, seminggu sekali saya harus ke dokter untuk memeriksa kondisi janin. Dan setiap minggu itu pula saya mendapat pertanyaan kurang lebih seperti ini :

1. “Seminggu ini makan apa aja?”
2. “Seminggu ini melakukan aktivitas apa saja”
3. “Seminggu ini ada pikiran yang mengganggu atau tidak?”
4. “Seminggu ini bahagia atau banyak stress?”
5. Dst dst

Dan jika kita melanggar apa yang sudah dinasihatkan pada kita minggu sebelumnya, kita bisa kena marah sama susternya. Kok suster? Ya, sebelum bertemu dokter kita akan diwawancara oleh perawat (lucunya, buat saya orang indonesia yang ngga bisa bahasa Jepang, kita wawancara dengan memakai buku. Buku tersebut bertuliskan bahasa Indonesia. Perawat menunjuk nomor yang harus saya baca dan saya menunjuk jawaban a,b,c,d,e dst yang telah disediakan.

Setelah wawancara tersebut. Perawat memberikan rekap wawancara kepada dokter. Saya menunggu sebentar sementara dokter menganalisa hasil wawancara. Kemudian kita dipanggil lagi untuk bertemu dokter dan diperiksalah dengan USG. Kita diberitahu sangat detail tentang janin dan kondisi kita.

Oya, saat bertemu perawat dalam sesi wawancara, kita tak hanya ditanya loh. Tapi juga diberi pengetahuan tentang menu makanan yang benar. Salah satunya adalah ternyata selama hamil kita ngga boleh berlebihan dalam makan buah juga. “Sehari cukup makan 2 macam buah. Misal 1 pisang dan 1 apel. Buah itu mengandung gula dan jika kamu makan terlalu banyak nanti kamu gemuk. Orang hamil tidak boleh kegemukan. Bahaya untuk bayi dan juga Ibu. Salah satunya nanti kamu akan tidak bebas beraktivitas dan bahkan susah untuk melahirkan normal. Jadi dijaga makannya”.

jepang-hamil-mukadimah

Di Jepang, orang hamil berat badannya tidak boleh naik lebih dari 16 kilogram (haiyah hahaha kalau saya ngga salah ingat. Maklum sudah 4 tahun berlalu, saya agak lupa lupa ingat. Yang jelas pokoknya ngga boleh naik diatas 20kg). Dalam setiap pertemuan kita sudah diatur hanya boleh naik berapa gram. Jika kelebihan maka kita ditegor untuk diet, jika kekurangan maka kita juga ditegor untuk lebih dibanyakin asupannya. Seperti itulah detailnya mereka.

Soal obat dan vitamin Ibu Hamil di Jepang

“Yun nanti minta vitamin bla bla bla”, kata teman saya melalui chatting di FB. Begitu juga kakak saya menyarankan saya untuk meminum vitamin ini itu supaya janin sehat ibu kuat. Teman teman dan kakak saya mengaku mendapat vitamin itu dari dokter (di Indonesia). Tapi yang terjadi? Berkali kali periksa saya tak pernah diberi vitamin apapun oleh dokter. Padahal mereka sendiri menyatakan kehamilan saya adalah kehamilan rawan gugur. Mereka sendiri yang menyatakan bahwa saya jangan senang dulu sebelum berhasil melewati 3 bulan masa kehamilan.

Sampai suatu hari saya bertanya, “Dokter kok saya ngga dikasih resep untuk beli vitamin?”. Dokternya malah terbelalak, “Vitamin? Buat apa? Kamu tak perlu vitamin apa apa”. “Loh kakak dan teman teman saya di Indonesia tiap ke dokter selalu diberi resep vitamin”. Lagi lagi dokternya bingung yang asli tampangnya ngga ngerti. “Vitamin apa ya? Vitamin itu hanya untuk orang yang punya masalah gawat dan benar benar butuh. Kalau kamu sehat tak perlu minum vitamin. Cukup makan sehat, bersih, dan pola yang benar maka janin dan ibu sehat. Lebih sehat makanan alami daripada minum vitamin buatan”.

jepang-hamil-buku

“Tapi sekarang ini saya darah rendah parah dokter. Jalan 100 meter mau pingsan terus. Boleh minta resep darah rendah?”. Jawaban dokter, “Ibu hamil anemia itu biasa, nanti juga sembuh sendiri. Tidak usah minum obat atau vitamin”. Tapi ternyata memang benar, akhirnya 1,5 bulan kemudian anemia itu hilang sendiri tanpa aku minum apa apa.

Intinya dokter disini sangat alami. Kenapa? Kata teman saya yang adalah dokter di Indonesia karena di Jepang dokter sama sekali tidak boleh menjalin kerja sama dengan salles obat. Jika ketahuan maka akan kena sanksi. Ketahuan dari mana? Tentu dari resep yang ia berikan. Jika dokter memberikan resep dan terbukti resep tersebut sebetulnya ngga penting penting amat, maka dokter akan terkena sanksi berat. Kereeennn !!!

Dan ohyaaa,.. satu kesamaan fasilitas BPJS di Jepang yang saya dapat dengan puskesmas di Kebagusan Pasar Minggu Jakarta ini adalah sama sama kita di suruh tes darah lengkap. Lupa di Jepang seharusnya nilainya berapa, yang jelas mahal, tapi karena fasilitas jadi gratis !!! Dan demikian juga di puskesmas, saya diwajibkan tes darah lengkap yang seharusnya senilai 2.000.000 rupiah, namun karena subsidi pemerintah (meski saya tak punya BPJS dll) hanya membayar 14.000 rupiah !!! Gileeee… murah meriah banget kan. I Love Puskesmas!!!

Hmmm,,, artikel saya panjang amat ya hihiiii. Oke nanti kapan dilanjut lagi kisah seru tentang kehamilan saya yah. Semoga tidak bosan untuk membacanya. Dan semoga artikel ini bermanfaat. (Maaf ya foto sangat minim hihihi apalagi foto di puskesmas ga ada. Maklum ribet sendiri hamil dan bawa anak).

————————————

Penulis : Catur Guna Yuyun Ang
Instagram @catur_guna dan @jakartaseru
Facebook : https://www.facebook.com/groups/jakartaseru/
Email : caturguna.ang@gmail.com

    1. DWI retnowati October 28, 2015
      • Administrator October 30, 2015
    2. ayu wulan December 11, 2015
      • Administrator December 15, 2015
    3. Kory October 5, 2016
      • Catur Guna October 6, 2016
    4. dara October 15, 2016
      • Catur Guna October 16, 2016

    Add Your Comment