Jangan Takut dengan Vonis Dokter

Ini adalah kisah nyata saya dalam memerangi vonis 3 dokter yang mengatakan, “Angkat rahimmu sekarang” dan “Wah ini susah kalau mau punya anak.”, ” Program juga 5 tahun belum tentu bisa punya anak.”. Setelah akhirnya hamil-pun 3 dokter yang saya datangi tak ada yang mengucapkan selamat, karena secara medis, bayi di dalam kandungan ini sangat rawan gugur.

Tak disangka, selain bayi saya akhirnya lahir sehat, kini ia telah memiliki adik lagi dan kondisi badan saya juga jauh lebih sehat dibanding sebelum saya punya anak. Saya jadi percaya, Dokter punya analisa, tapi Tuhan juga yang menentukan segalanya. Penasaran dengan kisahnya?? Baca dan Komen ya teman teman. Jika suka monggo di share untuk menguatkan teman / saudara.

Maaf buat yang sudah pernah mendengar cerita ini baik dari saya pribadi mau pun dari FB. Saya menulis ini bukan karena lebay. Tapi untuk berbagi lebih luas sehingga dapat memberi semangat untuk kawan kawan yang sedang menghadapi masalah sama.Β Lebih dari itu saya ingin orang tua/ mertua / suami/ om tante yang mungkin memandang kita sebelah mata akibat vonis dokter, juga membaca tulisan saya ini.

—————-

Sebelum menikah, perut saya sering sakit melilit hingga rasanya hampir pingsan. Perut saya pun gendut dibanding tubuh saya yang cungkring. Jadinya agak seperti orang hamil. Namun penyakit tersebut saya abaikan karena teman menyarankan ke dokter setelah menikah saja. Dan yup, beruntunglah saya ke dokter setelah menikah. Andai saat itu ke dokter dan mendengar vonis tersebut sebelum menikah, mungkin ceritanya akan berbeda. Bisa jadi saya tidak akan berani menikah.

Tiga (3) hari setelah menikah, saya dan suami tinggal berjauhan. Suami kembali ke Jepang untuk bekerja, sementara sambil menunggu visa ke Jepang, saya tinggal di rumah mertua. Saya yang belum tau denah kota, meminta mertua untuk mengatar ke Dokter terkait keluhan yang saya alami sebelum menikah. Tak disangka, dokter mengatakan, “Ini rahimnya harus segera diangkat. Berbahaya. Lebih baik tidak punya anak daripada nanti Ibu menghadapi persoalan kanker. Karena ini myomnya sudah lebih dari 5 centi, sangat mungkin tiba tiba menjadi ganas”.

Saya dan Suami Tercinta

Saya dan Suami Tercinta

Mertua yang baru 7 hari jadi Orang Tua saya pun kaget bukan kepalang. Maklum, anak yang menikah dengan saya adalah anak laki satu satunya di keluarga. Tentunya sebagai orang tua, harapannya adalah memiliki cucu dari anak lakinya bukan?

Keep Cool, Keep Calm alias mati gaya. Saya pun mengabari orang tua sayayang tinggal di lain kota dan Mama meminta saya pulang untuk diperiksa di RS Internasional di Surabaya. Hasilnya? “Hm,… (berpikir) … ini punya anak susah. Program juga belum tentu dapat”, “Harus diangkat dok rahimnya?”, “Oh, nggaaa. Ngga usah diangkat. Nanti kalau diangkat ngga bisa punya anak selamanya dong. Kita harus masih punya harapan. Tapi ya harapan satu satunya cuma doa. Karena program juga susah ini”.

Balik ke kota Mertua, Mertua mengajak ke Rumah Sakit lainnya yang paling bagus di kota tersebut dan hasilnya sama dengan yang terakhir. Ngga perlu sampai angkat rahim, tapi memang susah untuk punya anak. Apalagi saat itu usia saya sudah 28. “5 tahun program juga belum tentu dapat ini”, katanya. Ya sudahlah meski masih dalam suasana shock, tapi lega juga. Karena masih punya harapan.

Dan statement suami di telpon adalah yang paling menenangkan, “Sudah ngga papa ngga usah dipikirin. Anggap aja kita pacaran, kalau nanti kita pengen punya anak ya tinggal adopsi. Udah yang pentingkan kitanya selalu bersama. Pikir aja yang senang senang. Visa jadi dan kita kumpul lagi”.

Saya sakit apa sih? Menurut ketiga dokter yang saya datangi. Saya memiliki Myom dengan ukuran 5×7 cm. Posisinya ada di dalam rahim dan menutup saluran masuk sperma. Situasi secara manusiawi, sel telur yang saya miliki tak akan pernah bisa dibuahi karena tak akan pernah ada pertemuan antara sel telur dengan sperma. Ilustrasinya : Badanku ini adalah toples yang ditutup. Untuk memasukkan sesuatu ke dalam toples maka tutupnya harus dibuka. Nah tutup ini adalah Myom.

Pengobatan yang kulakukan

Papa menyarankan untuk saya memakan hanya 1 macam buah buahan selama 21 hari (tidak boleh makan apapun selain buah yang saya pilih tersebut). Akhirnya saya memilih untuk hanya memakan pisang susu. Yes, pisang susu tanpa makan apapun selain minum air putih. Hari pertama berjalan sukses. Perut juga rasanya enak. Hari ke 5 ternyata saya mendapat Haid (Sejak pertama mendapat haid pada usia 15 tahun, haid saya tidak pernah teratur). Dan kali ini Haidnya sangat berbeda, yaitu berupa semacam gumpalan sangat merah dan berjelly bentuknya seperti anggur.

Namun pada hari ke 7 atas saran mertua, saya menghentikan terapi makan pisang dari papa. Kenapa? Karena mertua tidak tega melihat saya hanya makan pisang dan tampak pucat. Maklum saya ini napsu makannya gila gilaan. Jadi begitu hanya makan pisang, rasanya badan cukup lemas. Tapi saya cukup senang karena melihat gumpalan besar keluar dari perut, yang kata mama “Itu mungkin darah kotor yun”.

Mertua meminta saya untuk kembali makan seperti biasa dan supaya saya tidak terlalu memikirkan soal keturunan. Mertua janji akan terus bantu dalam doa dan sujud. “Sebentar lagi kamu berangkat ke Jepang. Nanti malah di Jepang sakit gimana? Sudah makan seperti biasa saja. Yang penting kita terus berdoa”, kata Ibu Mertua yang sangat menyayangi saya.

Setelah berhenti makan pisang, dokter menyarakankan saya untuk minum Pil KB selama 2 bulan. Pas banget, begitu pil habis. Visa jadi dan Saya berangkat ke Jepang dalam kondisi sedang haid.

Sampai di Jepang

Perkataan saya begitu ketemu suami saat di Jepang, “Pokoknya kalau 2 tahun belum hamil, aku mau pulang Indonesia ya. Mau terapi”. Suami berkata, “Udah ngga usah dipikirin”. Dan hari hari pun berjalan seperti tidak pernah ada vonis dokter. Tak disangka, 2 bulan di Jepang saya mengalami kram diseluruh tubuh saat sedang membantu suami melatih badminton.

bandara narita

bandara narita

bersama anak anak buah suami di tempat latihan

bersama anak anak buah suami di tempat latihan

bersama anak anak didik suami

bersama anak anak didik suami

Suami meminta saya istirahat dan tidak usah ikut ke lapangan lagi (suami saya bekerja sebagai pelatih badminton di kota Nagano saat itu). Diam diam saat suami pergi kerja, saya membeli test kehamilan. Saya sengaja tidak bilang suami karena takut hasilnya negatif. Dan pagi pagi sekali saya coba dan wooowww hasilnya positif. Tapi takut testnya salah, saya beli lagi dan coba lagi. Wooowww hasilnya samaaa!!! Positif!!!

“Pa”, kata saya menunjukkan hasilnya pada suami. Ia yang bangun tidur bertanya, “Apa itu artinya”. “Ngga tau”, jawab saya masih takut kalau kalau hasil tes nya salah. Suami mengajak saya ke dokter dan “Hasilnya memang positif hamil. Tapi saya tidak memberi selamat. Karena kandungan Ibu memiliki resiko besar untuk gugur.”, kira kira itulah kata dokter di Jepang jika saya terjemahkan.

Ia kemudian menunjukkan hasil USG kepada saya dan mengilustrasikan bayi saya yang besarnya bahkan masih besar kacang hijau. Sementara Myom saya sebesar Bola Tenis seperti raksasa yang siap menelan baby saya kapan saja ia mau. “Kita harus tunggu sampai usia janin melewati 3 bulan, jika bayi Ibu bisa melalui 3 bulan tersebut dengan baik, maka saya baru akan memberi selamat bahwa Ibu memang sedang hamil”, lanjut dokter. Saya pun ke dokter lain dan ternyata 3 dokter mengatakan hal yang sama semua.

Karena ngga percaya jadi beli test pack lagi. Test Pack di Jepang lumayan mahal. 1 bijinya 70 ribuan

Karena ngga percaya jadi beli test pack lagi. Test Pack di Jepang lumayan mahal. 1 bijinya 70 ribuan

apato nya yang dilantai 2, tiap hari beberapa kali naik turun

apato nya yang dilantai 2, tiap hari beberapa kali naik turun

belanja harian, karena penderita myom harus selalu makan makanan segar (katanya) - sehingga saya selalu belanja tiap hari, jarang simpan untuk waktu lama di kulkas

belanja harian, karena penderita myom harus selalu makan makanan segar (katanya) – sehingga saya selalu belanja tiap hari, jarang simpan untuk waktu lama di kulkas

Tetap bersepeda dan beraktivitas seperti biasa

Tetap bersepeda dan beraktivitas seperti biasa

Lagi lagi suami menguatkan, “Sudah ngga usah dipikiri. Aktivitas aja seperti biasa”. Akhirnya??? Saya tetap kemana mana naik sepeda. Belanja beras 5 kg angkat angkat sendiri dari supermarket sampai ke apato yang ada di lantai 2. Dan tiap hari kembali ikut kelapangan untuk membantu suami melatih. Tapi sekarang saya hanya diberi tugas yang ringan ringan. Perbedaan dengan hari hari sebelum hamil hanyalah sekarang rutin seminggu sekali saya harus datang ke dokter untuk memeriksa kesehatan janin.

Seminggu sekali??? Yessss. Entah semua Ibu hamil di Jepang harus ke dokter seminggu sekali, atau karena saya ada masalah sehingga harus ke dokter seminggu sekali saya kurang tahu. Yang jelas setelah akhirnya Janin dinyatakan HIDUP, barulah saya ke dokternya sebulan sekali.

Kok Bisa Hamil???

Saya juga punya pertanyaan yang sama hihihi. Faktor pertama tentu mungkin karena seluruh keluarga berdoa buat saya : Mertua, Orang Tua, Tante, Saudara dan Suami bahkan para sahabat. Semua bersatu mendoakan supaya saya punya anak. Sehingga mungkin doa ini menjadi viral dalam telinga Allah. Viral??? #emangnyasosmed hehehe

Selain itu setiap hari saya selalu memohon doa kepada Allah supaya diberi keturunan. Dan tentang doa ini saya punya artikel khusus. Dimana saya juga memohon doa saat ada Matsuri di Jepang dimana para pengikut Shinto yakin jika siapapun yang datang keacara tersebut dan mendapat kue yang dilempar dari atas, maka apapun doanya akan dikabulkan. Aneh tapi nyata, usai berdoa, saya membuka mata dan tiba tiba sang pelempar kue melihat ke arah saya dan melempar kue. Taukah kalian??? Usia janin saya ternyata persis sama dengan hari dimana acara perayaan matsuri tersebut diselenggarakan. Bukan lalu saya jadi pengikut shinto, tapi disini saya jadi lebih percaya Bahwa Allah ada dalam Hati. Ia tak terbatas oleh ruang dari batu. Cerita lebih lanjut bisa baca artikel saya, klik disini ya.

dapat kue moachi, dan uniknya menurut USG, hari dimana terjadi pembuahan adalah di hari saya memohon dan mendapat kue moachi

dapat kue moachi, dan uniknya menurut USG, hari dimana terjadi pembuahan adalah di hari saya memohon dan mendapat kue moachi

Sahabat yang selalu mendukung dan mendoakan

Sahabat yang selalu mendukung dan mendoakan

sahabat yang selalu turut mendoakan dan mendukung

sahabat yang selalu turut mendoakan dan mendukung

buah buahan di Jepang ditanam secara organik

buah buahan di Jepang ditanam secara organik

Padi di Jepang di tanam secara organik (ini sawah di depan tempat tinggal

Padi di Jepang di tanam secara organik (ini sawah di depan tempat tinggal

sayur yang segar

sayur yang segar

Kedua mungkin karena Udara di Nagano Jepang yang sangat segar. Asli segar banget, hampir ngga ada polusi. Lalu semua makanan adalah organik. Beras Jepang selalu ditanam secara organik, demikian juga buah dan sayurannya. Sehingga badan saya mungkin detoks secara alami karena makanan yang saya konsumsi sehat. Air putihnya juga beda dengan air mineral di Indonesia. Air keran saja ketika di jadikan es bisa bening seperti kristal. Tentang Air putih di Jepang ini saya juga pernah menulis artikelnya, monggo dibaca klik disini.

Ketiga mungkin juga karena pikiran yang tenang. Suami tidak kecewa atau pun bersedih atas kondisi kesehatan saya. Bahkan terus memberi semangat bahwa saya ini sehat. Seperti kata saya, bukan hanya suami tapi seluruh orang disekitar saya selalu memberi dukungan bahwa saya ini sehat. Dukungan bukan dukungan lebay yang tiap ketemu mengungkapkan kesedihannya karena saya ngga bisa punya anak. Tapi dukungan mereka berupa NGGA PERNAH UNGKIT masalah tersebut. Jadi semua orang berlaku bahwa saya sehat dan terus membawa masalah saya ke dalam doa. Bagaimana saya bisa tau? Semua orang pasti punya insting, kita yang mengalami pasti bisa merasakan apakah orang yang kita hadapi sedang mendukung atau mencela.

Ke empat mungkin juga karena sudah divonis sakit sehingga saya jadi lebih konsen dengan kesehatan. Saya banyak makan makanan yang direkomendasikan untuk penderita myom. Saya tidak lagi makan sembarangan. Saya mengurangi jajanan dan lebih banyak makan sayur dan buah. Makanan cepat saji juga saya lupakan, sehingga ketika ingin burger, saya pun membuatnya sendiri dengan bahan bahan yang sehat.

Ke lima, membaca buku. Saya selama sakit membaca buku buku yang menguatkan. Buku yang paling menginspirasi saya adalah Miracle of Endorphine dan juga The Secret. Dimana di buku Miracle tersebut dikatakan bahwa obat paling baik adalah hormon kebahagiaan. Hormon ini dapat menyembuhkan semua penyakit tanpa obat.

Lahir Anak Pertama

Akhirnya Lahirlah ZARA NUGROHO. Anak Anugerah. Ia bukan hanya anak saya. Tapi ia adalah anak dari semua orang yang telah turut mendoakan saya sehingga lahirlah Zara. Ia tak hanya lahir sangat cantik dan lucu tapi juga sangat pintar dan luar biasa. Kelucuan dan kepandaiannya bisa anda lihat di channel youtubenya ZARA CUTE. Sebuah channel yang saya buat untuk merekam keseharian zara.

garrett popcorn

Zara Nugroho

Kenzo betah juga di Warunk Upnormal, makannya banyak

Kenzo Putra Nugroho

Saat hamil anak ke dua, saya sempat menderita sakit infeksi ginjal di usia kehamilan 7 bulan. Seminggu penuh saya tidak bisa bangun dari kasur. Setelahnya pun kondisi saya tidak bisa lelah. Jalan 50 meter rasanya ngos ngosan. Saya sempat takut bahwa kesehatan saya akan berpengaruh pada janin. Tapi suami lagi lagi menguatkan bahwa segalanya akan baik baik saja. Dan syukurlah si Kecil Kenzo Putra Nugroho lahir dengan sangat sehat.

Luar Biasa bukan. So, buat Ibu Ibu yang sedang mengalami masalah yang sama dengan saya, yakinlah bahwa tak ada yang mustahil di dunia ini. Bagikan tulisan ini untuk menguatkan dan memohon dukungan keluarga, supaya bersama sama berdoa mengatasi permasalahan yang kita miliki.

Notes : Ini hanyalah sebuah kisah dari saya yang mungkin akan memiliki akhir cerita yang berbeda dengan kasus penyakit yang sama. Karena kawan saya yang seorang dokter juga mengatakan bahwa saya hanya salah satu orang yang beruntung karena penyakit tersebut tidak berubah menjadi kanker ganas. Dan bersyukur karena bisa tetap memiliki Anak.

Kawan saya tersebut juga mengatakan, untuk memakai obat / vitamin jika sudah memiliki myom seperti saya, juga harus dikonsultasikan dengan dokter. Karena kemampuan tubuh tiap orang berbeda. Satu nasehat lagi dari kawan saya, “Untuk sebuah penyakit serius, jangan hanya berpegang pada satu dokter. Tapi pergilah ke beberapa dokter, paling tidak 3. Supaya hasil benar benar valid, tidak salah penanganan”.

 

    1. Ayudiah respatih October 4, 2016
    2. Rina October 4, 2016
      • Catur Guna October 4, 2016
    3. Keluarga Biru October 4, 2016
      • Catur Guna October 4, 2016
    4. Ayudiah respatih October 4, 2016
      • Catur Guna October 4, 2016
    5. Andriani Wiria October 4, 2016
      • Catur Guna October 4, 2016
    6. Liza October 4, 2016
      • Catur Guna October 4, 2016
    7. Ayu Wulan October 4, 2016
      • Catur Guna October 4, 2016
    8. Nuno October 4, 2016
      • Catur Guna October 4, 2016
    9. Lia Harahap October 4, 2016
      • Catur Guna October 4, 2016
    10. Sashy October 4, 2016
      • Catur Guna October 5, 2016
    11. herva yulyanti October 4, 2016
      • Catur Guna October 5, 2016
    12. Dita malesmandi October 4, 2016
    13. Keke Naima October 4, 2016
      • Catur Guna October 5, 2016
    14. Nurin Ainistikmalia October 5, 2016
      • Catur Guna October 6, 2016
    15. Shinta Theresia October 5, 2016
      • Catur Guna October 6, 2016
    16. zata ligouw October 5, 2016
      • Catur Guna October 6, 2016
    17. Arinta Adiningtyas October 5, 2016
      • Catur Guna October 6, 2016
    18. Febriyan Lukito October 5, 2016
      • Catur Guna October 6, 2016
    19. Cecilia October 6, 2016
      • Catur Guna October 6, 2016
    20. Aqib Blog October 6, 2016
      • Catur Guna October 6, 2016
    21. Dina Mardiana October 6, 2016
      • Catur Guna October 6, 2016
    22. Dian Jimmy October 6, 2016
      • Catur Guna October 6, 2016
    23. Oline October 7, 2016
      • Catur Guna October 8, 2016
    24. Amir October 7, 2016
      • Catur Guna October 8, 2016
    25. Vina October 10, 2016
      • Catur Guna October 10, 2016
    26. Dewi Octaviani (ONCE) October 10, 2016
      • Catur Guna October 11, 2016
    27. dina October 10, 2016
      • Catur Guna October 11, 2016
    28. Nefertite Fatriyanti October 10, 2016
      • Catur Guna October 11, 2016
    29. IKa October 10, 2016
      • Catur Guna October 11, 2016
    30. Rosita Yahya October 10, 2016
      • Catur Guna October 10, 2016
    31. Arin Osanai October 10, 2016
      • Catur Guna October 11, 2016
    32. Nina October 10, 2016
      • Catur Guna October 11, 2016
    33. Eka October 10, 2016
      • Catur Guna October 11, 2016
    34. andhini October 10, 2016
      • Catur Guna October 11, 2016
    35. Neli October 11, 2016
      • Catur Guna October 13, 2016
    36. Uniek Kaswarganti October 12, 2016
      • Catur Guna October 13, 2016
    37. Eliza Setiawan October 12, 2016
      • Catur Guna October 13, 2016
    38. Inge October 13, 2016
      • Catur Guna October 14, 2016
    39. Adriyanti firdasari October 16, 2016
      • Catur Guna October 16, 2016
    40. Arifah wulansari October 18, 2016
      • Catur Guna October 18, 2016
    41. Nelly January 21, 2017
      • Catur Guna February 3, 2017
    42. Tetty March 7, 2017
      • Catur Guna April 25, 2017

    Add Your Comment