Ekspedisi Asmat – Serunya Perjalanan ke Kota Budaya Warisan Dunia, Asmat Papua

pesawat dari timika ke bandara ewer

WOW — Adrenalin saya terguncang hebat dan benar benar sebuah perjalanan yang tak mungkin saya lupakan seumur hidup. Entah bagaimana, Kabupaten Agats yang merupakan wilayah berdiamnya suku Asmat ini, bisa dibilang keluar dari zona nyaman saya. Berbagai fasilitas-nya terbatas, tapi hmmm saya TERPESONA. Dan inilah kisah saya dimulai saat menuju ke Kota Budaya, Asmat Papua.

Dari Jakarta menuju ke Kabupaten Agats, bukanlah perjalanan yang mudah. Pesawat yang membawa saya ke Timika, transit dulu ke Makassar. Setelah itu baru lanjut ke Timika dan saya pun harus berganti pesawat twin outer menuju ke Bandara Ewer. Perjalanan selama 45 menit dengan pesawat kecil ini kita akan melewati laut, sungai dan hutan hutan liar lebat yang akan membuat pikiran kita melayang kemana mana. Perjalanan dengan twin outer ini juga tak semudah bayangan. Karena cuaca jelek sedikit, maka penerbangan terpaksa di delay. Delay-nya pun bahkan bisa berhari hari tergantung baiknya cuaca. Beruntungnya saya, karena begitu mendarat, cuaca sangat bagus dan saya pun tak perlu menunggu lama untuk melanjutkan perjalanan.

Sampai di Bandara Ewer, perjalanan belum usai, karena kita harus naik perahu melewati sungai yang sangat lebar dengan muara langsung ke laut. Terkadang ombak sedikit mengguncang kapal dan debaran jantung pun semakin kencang. Namun kita sebetulnya tak perlu terlalu kuatir, karena para pengendara kapal adalah orang orang berpengalaman yang sangat mengenal situasi di sungai.

twin outer papua

perahu ke agats

pemandangan disungai agats

Luar biasanya, selama 30 menit di sungai, saya merasa sedang berada di hutan amazon (efek kebanyakan nonton national geographic xixxixiii). Pikiran saya melayang pada ular berbisa dan buaya yang melirik kearah kapal. Semakin liar imajinasi semakin adrenalin saya dag dig dug DUAR. Beruntunglah seorang kawan mengalihkan pikiran ngaco saya dan saya pun kembali menikmati suasana sungai yang penuh kedamaian.

Akhirnya sampailah saya ke Kabupaten Agats dan ternyata perjalanan belum berakhir. Disini tak ada mobil, jadi untuk menuju lokasi penginapan kita hanya bisa berjalan kaki atau naik motor listrik. Tapi ada suatu pemandangan yang luar dari kebiasaan — Wooowwww inilah sebuah petualangan yang akhirnya membuat saya jatuh cinta dan terpesona dengan wilayahnya suku Asmat ini!!! Amazing — mungkin inilah satu satunya kota di Dunia yang seluruh kotanya dibangun di atas papan.

Tak ada daratan, tak ada kebun. Semua adalah rawa dan lumpur. Ingin tau kisah ceritanya lebih lanjut tentang KOTA DI ATAS PAPAN INI??? Baca artikel saya lainnya tentang ASMAT ya.

Artikel Lain terkait ASMAT :
1. Pesona Kota Papan di Kabupaten Agats Papua
2. Eksotik Ukiran Patung Suku Asmat
3. Buaya Raksasa dan Snejata Tulang Manusia di kampung Asmat

seru selama perjalanan ke asmat

asmat kota di atas papan

mejeng bersama anak asmat

———————————————————————————————-
Pengalaman : Anggun Nugroho
FB JakartaSeru : https://www.facebook.com/jakartaserucom

  • Add Your Comment