Ekspedisi Asmat – Pesona Kota Papan di Kabupaten Agats Papua

kota papan di agats papua

 

Setelah melalui perjalanan yang luar biasa dari Timika ke Agats, saya menemukan hal yang terlalu berkesan untuk dikatakan!!! Sebuah kota yang tak memiliki daratan!!! Woowww pasti anda penasaran bukan??? Demikian juga saya — maka begitu sampai di Agats, badan yang awalnya letih, tiba tiba mendapat kekuatan ganda untuk jalan jalan berkeliling kota. Dan inilah kisah saya selama di Agats Papua – basisnya suku Asmat.

Pertama mendarat di Pelabuhan, saya langsung disambut dengan jalanan yang terbuat dari papan. Tak disangka, jalanan dari papan yang kemudian saya lalui untuk sampai ke penginapan ini tak putus putus. “Seluruh kota memang berdiri diatas papan”, kata teman saya yang kerja di Agats sini. WOW — kota diatas papan. Kota tanpa Daratan. Entah bagaimana menyebutnya yang lebih baik, tapi disini memang benar benar tak ada pasir. Bahkan selama tinggal disini, saya tidak ketemu sama yang namanya debu.

Konon cerita, dahulu kala (sampai saat ini), wilayah ini seluruhnya adalah tanah rawa dengan tanaman khas-nya yaitu Tanaman Rawa dan Bakau. Namun, kebutuhan untuk menetap akhirnya menjadikan kota ini ada. Karena tak bisa langsung dibangun rumah, maka dibuatlah tiang tiang kokoh untuk dijadikan daratan buatan yang terbuat dari kayu papan ini.Luar biasa, mulai dari jalan raya, sampai gang senggol semua dibuat dari papan kayu yang sangat rapi dan kokoh. Jalanan pun lengkap dengan alamat nama nama pahlawan. Misal saja : Jl. Jendral Ahmad Yani no 20. Mantab kan.

 

kantor bupati agats asmat

lapangan badminton dari kayu

jalanan di agats papua

 

Nyaris semua aktifitas warga dilakukan dengan berjalan kaki, karena disini memang tak ada mobil. Namun sesekali terlihat motor melintas. Lucunya motor disini adalah motor listrik. Jika ada motor lewat, maka tak hanya jalanan yang bergetar, bahkan rumah yang dilewati juga ikut bergetar hihiiii … pertama tama terasa aneh, tapi lama lama terbiasa juga. Satu hal lagi soal jalanan, karena memang tak memiliki tanah, maka tak bisa menanam tanaman yang teduh. Semua tanaman hanyalah tanaman mangrove yang berukuran kecil. Alhasil jika siang datang dan kita harus menyusuri jalanan papan ini, wowww lumayan teriknya. Panas yang bikin berkeringat.

Berkat ketiadaan bahan untuk membangun, maka otomatis rumah rumah disini pun dibuat dengan menggunakan kayu. Bahkan lapangan bulu tangkis pun juga terbuat dari kayu, jadi kalau lagi jumping smash tentunya bersuara ‘gedebug’ hohoo … Tapi hebat, dengan fasilitas serba terbatas, Asmat memiliki pemain bulu tangkis yang penuh semangat. Berlatih setiap hari dan tentunya ini badminton juga menjadi salah satu hiburan yang cukup sehat di Agats.

Oya, tak hanya lapangan bulu tangkis, kantor Bupati dan kantor daerah lainnya juga terbuat dari kayu, tak ada pengistimewaan. Karena memang untuk mendatangkan material bangunan dari Merauke tentu membutuhkan biaya yang tak sedikit.

Oya, tapi saat saya melintas di daerah pusat kota, disana ada jalan yang disebut JALAN TOL. Yaitu jalan yang dibuat dari beton. Jalan modern ini ada berkat Bupati Yuvensius A. Biakai, B.A, S.H. seorang bupati yang sangat konsen terhadap perkembangan kota AGats. Saat ini pun Agats masih terus berbenah baik dalam segi fasilitas maupun pemekaran wilayah. Keren!!! Maju terus Agats.

 

motor listrik

motor listrik

agats kota rawa

 

Perjuangan Warga AGATS

Hal lain yang membuat saya takjub akan kota ini adalah, tidak adanya sumber mata air. Waah bagaimana sebuah kota bisa hidup tanpa adanya supply air? Usut punya usut, ternyata mereka menggantungkan kehidupan pada air hujan. Mandi, memasak, mencuci, semua dilakukan dengan menggunakan air hujan yang ditampung. Jika musim kemarau berlangsung lama dan persediaan air habis? Tak mandi tentunya.

Namun memasak masih bisa dilakukan, karena disini ada banyak penjual minuman kaleng dan air mineral kemasan. Hmmm … ingin tahu rasanya mandi dengan air hujan yang ditampung? Badan menjadi licin dan sedikit lengket. Tapiiii itu jika hidup di kota yang memiliki banyak sumber mata air. Sedangkan ketika kita tinggal disini, di kota yang mataharinya bersinar sangat bebas menyengat dan airnya terbatas, maka mandi dengan air hujan merupakan hal tersegar yang selalu saya tunggu tunggu.

Selain tak adanya sumber mata air, karena merupakan hutan, maka keberadaan nyamuk tak perlu diragukan lagi jumlahnya. Namun, nyamuk ini cukup ramah, jika kita menggunakan lotion anti nyamuk, maka yang terjadi adalah bye bye nyamuk hehehe, maka tips buat anda yang hendak kemari adalah berbekallah lotion anti nyamuk.

 

anggun nugroho

Nah, ini baru cerita tentang Agats si kota papan, diartikel selanjutnya saya masih akan bercerita tentang Kota Agats yang unik dan Kebudayaan Ukir Suku Asmat. Weewww amazing banget.

———————————————————————————————-
Pengalaman : Anggun Nugroho
FB JakartaSeru : https://www.facebook.com/jakartaserucom

  • Add Your Comment