Biaya Makan di Jakarta, ternyata lebih mahal dari di Jepang

Apakah judulnya berlebihan??? Wooowwww, ngga loh. Ini kenyataan. Masak sih??? Mari monggo dibaca sampai habis ya artikelnya dan anda akan terkejut, ternyata biaya makan di Jakarta ini mahal sekali.

Artikel ini sebetulnya terinspirasi berkat saya ke AEON Mall di BSD City kemarin lebaran. Sepulang dari sana, kok tergelitik untuk menulis artikel ini. Pertama, kenapa dibandingkan dengan Jepang, ya karena inspirasinya muncul saat ke AEON yang notabene adalah Jaringan Mall yang sangat populer di Jepang. Dan begitu buka di Indonesia, langsung ngehits banget. Lebaran kemarin saya sampai pusing mau pingsan karena mall nya penuuuuhhhh banget. Serasa di mangga dua. Jalan kesana sini nyenggol orang. Duh maaf ngga ke foto, soalnya kepala udah pusing duluan liat orang banyak banget (padahal di BSD Plaza dan beberapa mall lain di sekitarnya ngga serame ini loh).

AEON Mall di UEDA Nagano

AEON Mall di UEDA Nagano

Di lantai bawah AEON, berkumpullah aneka resto franchise dari Jepang dan jika bukan franchise pun, resto resto di sekitaran sini beraroma Jepang.Β  Lagi pengen sushi, maka nyobalah kita makan di Little Tokyo Sushi. Beli Salmon Maki 3 (25.000/ porsi – seporsi isi 3 sushi), Salmon Cheese 1 (35.000 / porsi – seporsi isi 2 sushi), Salmon Salad 1 (33.000 / porsi), Salmon Yuke 2 (25.000/ porsi – seporsi isi 2), coca cola 1 (20.000 / kaleng) dan Air Mineral 1 (8.000 / botol) lalu bagian akhir seperti biasa ada PB1 10%.

aeon mall bsd city

Kami saat narsis di Aeon Mall BSD City

Little Tokyo Sushi

Zara di Little Tokyo Sushi

Little Tokyo Sushi

Salmon Yuke ini seger juga dengan ada rasa pedas sedikit, dan sebelahnya adalah salmon cheese (Little Tokyo Sushi)

Little tokyo sushi

Salmon Salad di Little Tokyo Sushi

Yakitori di Hakata Ichibandori Express

Yakitori di Hakata Ichibandori Express

Hakata Ichibandori Express

Pesanan saya di Hakata Ichibandori Express

Kemudian karena belum kenyang, kami makan lagi di Hakata Ichibandori Express yang menjual aneka yakitori.Β  Beli Lidah Sapi (@15.000), Kulit (@10.000), Sayap Ayam (@15.000), Nu Green Tea (@15.000) dan seperti biasa juga ada Tax 10%

Suasana cukup mendukung serasa di Jepang. Apalagi (saat saya kesana) yang datang ke Mall ini juga lumayan banyak ekspat Jepang dan Korea. Di resto pertama, saat sushi ada di hadapan, tiba tiba saya teringat akan Jepang. Dimana dulu saat tinggal di Jepang, saya sering sekali makan di Kappa Sushi dan Kura Sushi. Ke dua resto tersebut adalah Resto sushi 105 Yen. Maksudnya? Yes, sepiring berisi 2 sushi harganya 105 Yen, jika dirupiahkan jadi sekitar 12.000 rupiah / piring. Murah banget yaaaaa. Inilah kenapa saya sering kemari, karena murceeeee cyin.

Soal rasa, ngga usah ditanya. Berasnya pulen banget dengan topping yang sangat segar. Dan yang paling menyenangkan jika makan di Kura Sushi dan Kappa Sushi, selain harganya yang murah meriah juga adalah minumannya berupa Ocha adalah GRATIS. Selain itu juga ngga ada pajak. So, kalau makan disana hanya bayar makanan saja lalu pulang.

Ini di Kappa Sushi, Misalkan Habis 10 porsi (20 sushi) hanya habis sekitar 120 ribuan, tanpa pajak dan tanpa harus beli minum

Ini di Kappa Sushi, Misalkan Habis 10 porsi (20 sushi) hanya habis sekitar 120 ribuan, tanpa pajak dan tanpa harus beli minum

Kappa Sushi Jepang

Salmon yang enak sekali di Kappa Sushi Jepang – setiap kesini saya pasti beli minimal 3 piring

di Kappa Sushi kita bebas membuat ocha baik panas mau pun dingin, gratis

di Kappa Sushi kita bebas membuat ocha baik panas mau pun dingin, gratis

Selain di resto sushi 105 Yen an ini, banyak resto lainnya yang juga memberikan gratis ocha / air mineral. Contohnya adalah Matsuya dan Sukiya (resto semacam yoshinoya – saat di jepang saya ngga pernah ke Yoshinoya karena di daerah saya ngga ada Yoshinoya), Saizeriya dan beberapa resto lainnya bahkan toko roti seperti Mister Donut juga memberikan gratis air mineral. Jadi enak kalau makan disana, cuma beli makanannya saja, ngga usah beli minuman. Irit bangeeet kan.

Apalagi soalnya kalau di Indonesia itu kan kadang harga makanan terlihat murah, tapi begitu pesan minumannya, harga bisa ngga masuk akal. Pernah saya minum segelas es teh manis (biasa, bukan es teh manis spesial import) harga 21ribu belum termasuk ppn hiks. Air mineral ukuran kecil yang biasa di swalayan 2000 rupiah pun, rata rata dijual di resto itu harganya 6.000 – 15.000 rupiah. Bahkan saya pernah beli air putih (restonya ngga jual air mineral botolan), eaaaa air putih isi ulang harganya 5.000 rupiah hihihi #nyengir. So ??? Kesimpulannya kalau minumannya dikasih gratis dan bebas ambil sendiri mau nambah berapa kali juga, lumayaaaaan kan.

Dan semua resto di Jepang tidak dibebankan biaya pajak apalagi biaya service yang kadang biayanya mengejutkanΒ  (beberapa resto di Jakarta bisa sampai 21% untuk Tax & Service). Bikin pingsan. Dan bahkan di Jepang sini, ngga ada istilah tips. Beda banget kan sama di Indonesia yang kayaknya kalau kita ngga ninggalin tips itu kesannya pelit. Beberapa resto juga gitu, sudah jelas ada biaya service di nota, tapi dikasir masih di kasih celengan dengan tulisan “Tips”, #haiyaaa.. Jadi ,… dari sini sudah kebayang kan bagaimana saya mulai menggambarkan bahwa makan di Jepang dan di Jakarta, murah di Jepang.

Di Matsuya, air putih juga gratis

Di Matsuya, air putih juga gratis

saizeriya juga menggratiskan air putih

saizeriya juga menggratiskan air putih

di mister donus air putih gratis

di mister donus air putih gratis

Pun, soal rasa. Sushi 105 yen-an (12.000 IDR / 2 piece sushi) ini boleh di adu dengan sushi sushi mahal di resto keren di Jakarta. Meski murah, tapi rasanya sama sekali ngga murahan. Bahkan bahan bahan yang digunakan adalah bahan yang segar dengan kualitas baik. Yup karena kata teman saya, membuka resto di Jepang itu perizinannya susah sekali. Tidak sembarangan orang bisa membuka resto. Dan jika resto sudah berdiri kemudian mutunya buruk, maka resto tersebut bisa dicabut izinnya. Jadi, … biar murah, kualitas bahan dan juga pelayanan plus nilai kesehatannya terjamin.

Baiklah, untuk soal kualitas, saya akan sedikit menggambarkan betapa kualitas makanan di Jepang yang baik, membuat tubuh saya jauh lebih bugar bahkan sembuh dari penyakit. Sebelum berangkat ke Jepang, saya baru saja di vonis 3 dokter di Indonesia bahwa saya tidak bisa punya anak atau bahkan jika program pun tetap akan sulit untuk punya anak. Ekstreem nya, dokter pertama malah menyuruh saya mengangkat rahim. Beruntunglah saya ngga hanya ke satu dokter.

Kemudian sampai di Jepang, saya tinggal di Nagano. Sebuah kota yang sangat segar udaranya (dikelilingi gunung). Dan karena ngga bisa masak,2 bulan pertama, setiap hari saya dan suami makan di restaurant sampai akhirnya saya mulai bisa memasak, baru agak sering masak dan makan dirumah. Dan, hayo ngakuuu, siapa yang punya image bahwa makan di resto adalah ngga sehat???? Hm,… yes mungkin itu berlaku jika di Indonesia, tapi nyatanya di Jepang??? 2 bulan saya makan di resto di Jepang, badan saya semakin sehat. Buktinya? 2 bulan tinggal di Nagano tersebut, saya dinyatakan positif hamil oleh dokter. Yessss!!! Dan memang, kondisi tubuh saya rasanya jauh lebih fresh daripada saat di Indonesia.

Entahlah, tapi saya percaya, faktor udara dan juga makanan turut berperan aktif dalam kesehatan saya. Karena setahu saya, bahan baku di kota tempat saya tinggal, semuanya ditanam secara organik. Baik beras, sayuran dan juga buah. Saya tahunya karena daerah saya tinggal banyak sekali terdapat kebun dan sawah. Bahkan di depan apartemen saya ada sawah dan kebun apel. Sawah ini baru dipanen setelah 5 bulanan masa tanam. Dan menurut saya, itu adalah waktu tanam padi secara organik. Demikian juga pohon apel dan kebun sayuran di dekat rumah saya, semua ditanam secara organik. Jadi, lebih kebayangkan murahnya makanan di Jepang. Coba kalau di Jakarta, jangankan resto, kita mau beli beras / sayur / buah organik buat makanan sehari hari aja mikir 1000 kali. Hihihiii, hayooo ngakuuuu.

Soal Pilihan Makanan

Yes, kisah diatas tentu jika dibandingkan dengan kebiasaan makan di lokasi yang mahal. Jika dibandingkan dengan aneka pilihan makanan yang ada di Jakarta, tentu biaya makan di Jakarta lebih murah daripada di Jepang. Kenapa? Karena di Jakarta masih ada yang jualan nasi bungkus 7.000 rupiahan, masih ada yang jual nasi kucing 3.000 rupiahan. Dan bahkan kalau lapar mendesak bisa beli roti seharga 500 RUPIAH di warung warung. Dan rotinya ini ukurannya mayan gede loooh. Dan di Jepang??? Tentu ngga ada makanan semurah itu. Paling murah tentunya Onigiri, itu pun harganya sekitar 5000 – 7000 rupiahan dan tentunya 1 tak akan kenyang, mesti beli 2 atau 3 onigiri baru nendang.

Tapi efeknya??? Entahlah, saya bukan ingin men-judge semua pedagang makanan murah seperti yang akan saya kisahkan berikut ya. Tapi ini adalah kisah nyata yang ada di TV TV. Makanan daur ulang, bahan kadaluarsa, tingkat higienis yang pernah kawan saya menjumpai cabe, bawang dan bumbu lainnya dari pasar langsung diolah tanpa di cuci, dst dst dst yang lumayan membuat pikiran melayang.

saat saya ke food court di mall di ueda, juga bebas mengambil air putih gratis

saat saya ke food court di mall di ueda, juga bebas mengambil air putih gratis

Dan nyatanya juga, saya mendapatkan penyakit saya (tidak bisa punya anak) adalah saat saya tinggal di Jakarta dengan kebiasaan makan anak kost dengan gaji pas pasan. Saya sering makan di warteg manapun yang penting murah kenyang, saya kadang kalau kepepet juga beli roti 500 rupiahan itu, di pasar suka beli makanan murah lagi lagi yang penting perut terisi dan ini rutin saya jalani selama 5 tahun. Hasilnya, saya harus membayar mahal, yaitu di vonis rahim harus diangkat, kemudian pindah ke dua dokter dan untunglah vonisnya sama lebih ringan : rahim ngga harus diangkat, tapi memang susah punya anak, program pun 5 tahun juga belum tentu bisa punya (padahal umur saya sudah 27 hampir 28 tahun saat itu).

Jadi, jika dihitung dari nilai secara keseluruhan, harga dibanding dengan mutu kualitas dan rasa, hayooo ngakuuuu, lebih murah manakah makanan di Jepang dan di Jakarta??? Apakah Judul yang saya buat berlebihan atau benar??? Silahkan di jawab sendiri. Dan yuhuuu, artikel ini bukan bermaksud untuk menjelekkan Indonesia, Jakarta khususnya, yang sangat tercinta ini. Tapi lebih kepada kisah nyata yang saya alami yang mungkin bermanfaat untuk dibaca atau mungkin bisa menjadi pemikiran bersama, atau mungkin … hmmm semoga bukan menjadi artikel yang ngga bermanfaat.

    1. liz prayitno July 11, 2016
      • Catur Guna July 12, 2016
    2. Dita malesmandi July 11, 2016
      • Catur Guna July 12, 2016
    3. April Hamsa July 11, 2016
      • Catur Guna July 12, 2016
    4. Rusydina Tamimi July 11, 2016
    5. Vety Fakhrudin July 11, 2016
      • Catur Guna July 12, 2016
    6. Dwi (nining) July 11, 2016
      • Catur Guna July 12, 2016
    7. Agnes July 11, 2016
      • Catur Guna July 12, 2016
    8. Fanny F Nila July 11, 2016
      • Catur Guna July 12, 2016
    9. Selena July 11, 2016
      • Catur Guna July 12, 2016
    10. Andy Kristono July 11, 2016
      • Catur Guna July 12, 2016
        • Andy Kristono July 12, 2016
    11. keyens July 11, 2016
      • Catur Guna July 12, 2016

    Add Your Comment